“Ingin membuat lagu sendiri dari nol? Temukan tips membuat musik ala AZRIELJOE, mulai dari memilih DAW seperti BandLab, menentukan genre, membuat beat, menyusun chord dan melodi, hingga belajar aransemen, mixing, dan menyelesaikan lagu pertamamu.”
Punya melodi yang terus muter di kepala, tapi begitu buka aplikasi musik malah bingung harus mulai dari mana?
Tenang. Belajar bikin musik memang terasa rumit di awal karena tiba-tiba kamu ketemu istilah seperti DAW, MIDI, BPM, mixing, mastering, sampai audio interface. Padahal, kamu nggak perlu memahami semuanya sebelum membuat lagu pertama.
Mempelajari tips membuat musik untuk pemula justru sebaiknya dimulai dari proses yang sederhana: pilih tools yang mudah dipahami, buat beat dasar, tambahkan beberapa elemen musik, lalu biasakan menyelesaikan satu project kecil sampai akhir.
Itulah fondasi yang juga terlihat dari tips produser musik AZRIELJOE (@azrieljoe) di FUOMO. Untuk pemula, fokus utamanya bukan mengumpulkan gear sebanyak mungkin, tetapi memahami software, struktur lagu, ritme, dan kebiasaan mendengarkan musik secara aktif.
1. Pilih DAW yang Membuat Kamu Benar-Benar Mulai
Langkah pertama dalam produksi musik adalah memilih Digital Audio Workstation atau DAW. Anggap saja DAW sebagai studio digital tempat kamu menyusun track, merekam suara, memainkan virtual instrument, mengedit audio dan MIDI, memberikan efek, melakukan mixing, lalu mengekspor hasil akhirnya.
Dalam panduan FUOMO, AZRIELJOE merekomendasikan BandLab untuk orang yang baru belajar. Saat ini BandLab Studio merupakan DAW berbasis cloud yang dapat digunakan melalui browser maupun aplikasi mobile. Di dalamnya, kamu bisa membuat track audio atau MIDI, menggunakan virtual instrument, memasukkan file sendiri, serta mengambil material dari BandLab Sounds.
Artinya, kamu nggak harus langsung membeli software mahal. Ide beat bisa dimulai dari smartphone ketika sedang di luar, lalu project yang sama bisa dibuka lagi melalui web. BandLab sendiri menjelaskan bahwa project mobile dapat dimuat di web dan sebaliknya, meskipun beberapa fitur bisa berbeda antarplatform.
Jangan terlalu sibuk mencari “DAW terbaik”. Untuk beberapa bulan pertama, DAW terbaik adalah yang membuatmu memahami proses dan nggak malas membuka project lagi besok.
DAW Mobile vs Komputer
Mobile | Komputer |
Praktis untuk menangkap ide cepat | Lebih nyaman untuk banyak track |
Bisa mulai tanpa laptop | Editing detail biasanya lebih mudah |
Touchscreen terasa intuitif | Keyboard dan mouse mempercepat workflow |
Cocok untuk sketch dan latihan | Cocok saat arrangement mulai kompleks |
Tidak ada pilihan yang otomatis lebih profesional. Pakai perangkat yang memang kamu punya dulu.

2. Tentukan Genre dan Gunakan Lagu Referensi
Salah satu pengalaman klasik ketika baru belajar adalah membuka DAW lalu menambahkan suara apa pun yang terdengar keren.
Drumnya hip-hop. Bass-nya funk. Synth-nya EDM. Gitarnya seperti pop-rock. Semuanya menarik sendirian, tetapi ketika dimainkan bersamaan terdengar seperti empat lagu yang sedang berebut speaker.
Karena itu, sebelum membuat beat, tentukan arah besarnya. Nggak harus sangat spesifik. Cukup tahu apakah kamu sedang ingin membuat pop, lo-fi, hip-hop, R&B, EDM, rock, atau sesuatu yang berada di antara beberapa genre.
Setelah itu, pilih satu atau dua reference track yang punya vibe mendekati ide di kepalamu. Jangan cuma dengarkan melodinya. Perhatikan tempo, kapan drum masuk, bagaimana verse berbeda dengan chorus, instrumen apa yang muncul saat energi naik, dan apa yang sengaja dihilangkan saat transisi.
Reference track bukan untuk dijiplak. Fungsinya memberikan pertanyaan yang lebih konkret. Daripada bertanya, “Gimana bikin lagu yang bagus?”, kamu bisa bertanya, “Kenapa chorus lagu ini terasa lebih besar daripada verse?” Pertanyaan seperti itu jauh lebih mudah dipelajari.
3. Bangun Beat dan Ritme Sebelum Menumpuk Banyak Layer
AZRIELJOE menempatkan beat sebagai salah satu fondasi yang perlu dipelajari pemula. Itu masuk akal karena ritme memberi struktur bagi elemen lain untuk bergerak bersama.
Kamu nggak perlu langsung membuat dua puluh track. Mulailah dari kick, snare atau clap, hi-hat, lalu bass. Empat elemen sederhana sudah cukup untuk belajar bagaimana groove bekerja.
Gunakan metronome supaya permainan tetap mengikuti tempo. Kalau timing drum, bass, atau instrumen mulai bergeser tanpa disengaja, layering berikutnya akan semakin sulit. Suara klik metronome mungkin terasa mengganggu di awal, tapi lama-lama kamu justru akan mencarinya.
Di tahap ini kamu juga akan bertemu MIDI. MIDI bukan rekaman suara, melainkan data tentang nada dan performa. Karena itu, sebuah melodi MIDI bisa dimainkan dengan piano sekarang lalu diubah menjadi synth nanti tanpa menulis ulang notnya. BandLab juga mendukung virtual instrument dan perangkat MIDI yang kompatibel, tetapi MIDI controller tetap bukan syarat wajib untuk mulai.
4. Tambahkan Chord, Bass, dan Melodi Secara Bertahap
Setelah beat terasa stabil, mulai tambahkan unsur harmoni.
Kamu nggak harus menguasai teori musik tingkat lanjut. Pengetahuan dasar tentang tangga nada, chord mayor dan minor, progresi chord, bass, serta melodi sudah cukup untuk membuat banyak latihan pertama.
Ambil satu progresi chord sederhana dan loop beberapa bar. Setelah itu tambahkan bass yang mendukung chord tersebut. Terakhir, coba humming melodi di atasnya. Jangan malu merekam suara “na-na-na” di smartphone kalau itu membantu menyimpan ide sebelum lupa.
Virtual instrument juga bisa menjadi solusi sebelum membeli gear fisik. Keyboard, synth, bass, atau drum virtual sudah cukup untuk memahami bagaimana instrumen bekerja dalam arrangement. Baru setelah tahu kebutuhanmu, pertimbangkan MIDI controller, microphone, headphone monitoring, atau audio interface. BandLab menjelaskan bahwa USB mic dapat disambungkan langsung, sedangkan microphone atau instrumen dengan koneksi seperti XLR atau jack dapat menggunakan audio interface yang kompatibel.
Gear sebaiknya dibeli untuk memecahkan masalah yang sudah kamu alami. Jangan beli alat hanya karena meja produser lain kelihatan keren di Instagram.
5. Ubah Loop Menjadi Lagu dengan Arrangement
Ada momen yang hampir universal bagi produser pemula: berhasil membuat loop delapan bar yang enak, lalu mendengarkannya berulang-ulang selama satu jam karena nggak tahu harus melakukan apa berikutnya.
Solusinya bukan selalu menambah plugin. Biasanya kamu butuh aransemen musik.
Untuk latihan, gunakan struktur yang sederhana seperti Intro – Verse – Chorus – Verse – Chorus – Outro. Setelah terbiasa, baru masukkan pre-chorus, bridge, drop, instrumental break, atau bagian lain yang cocok dengan genre.
Yang penting, setiap bagian harus terasa punya fungsi. Chorus bisa terasa lebih besar karena layer bertambah. Verse bisa lebih ringan supaya vokal punya ruang. Bridge justru bisa menghilangkan drum atau bass untuk menciptakan kontras sebelum final chorus.
Arrangement yang bagus bukan soal membuat semuanya bermain terus-menerus. Salah satu skill produksi yang penting justru mengetahui kapan sebuah instrumen harus diam.

3. Listen & Analyze
Latihan secara praktikal untuk berkembang memang diperlukan, tapi dalam dunia musik jangan lupa untuk mendengarkan dan menganalisis karya musisi lain juga! Adapun cara-cara cepat buat melatih telinga dan insting musikal kamu lewat kebiasaan seperti ini:
Perhatikan details dari karya musisi lain
Jangan cuma sekadar nikmatin melodinya, tapi juga perhatikan details kecil tiap lapisan di musiknya seperti “Bagaimana transisi antar bagian ini dan itu?” atau “Kapan bass mulai main?”. Semakin sering kamu dengerin dengan sadar, semakin peka kamu terhadap struktur dan dinamika lagu.
Analisa & Re-create
Sebagai itung-itung latihan, kamu bisa coba bikin ulang beat dari lagu yang kamu suka. Enggak harus mirip 100%, yang penting kamu bisa belajar untuk dapetin feels dan timing-nya.
Dengan latihan yang rutin, kamu akan semakin terbiasa dengan ritme, aransemen, dan teknik dasar produksi musik. Latihan enggak perlu lama-lama, 30 menit/hari cukup untuk membiasakan diri dan eksplorasi!
6. Latih Telinga dengan Listen, Analyze, dan Re-create
Mendengarkan lagu dan mempelajari lagu adalah dua hal berbeda.
Saat mendengarkan santai, kamu mungkin menikmati semuanya sebagai satu kesatuan. Saat belajar produksi, coba pilih satu elemen dan ikuti dari awal sampai akhir. Perhatikan kapan bass masuk, apa yang berubah menuju chorus, bagaimana drum menciptakan transisi, atau kenapa bagian tertentu terasa lebih lebar.
AZRIELJOE juga menyarankan latihan re-create sebagai cara melatih telinga dan insting musikal. Tujuannya bukan membuat copy untuk dirilis sebagai karya sendiri, tetapi membongkar bagaimana sebuah beat atau arrangement bekerja.
Kalau punya waktu 30 menit, kamu bisa membaginya menjadi dua bagian sederhana. Gunakan sekitar 15 menit untuk mendengarkan satu elemen dengan fokus, lalu 15 menit berikutnya untuk mencoba membuat ulang pola tersebut di DAW. Besok ganti fokus ke bass, chord, atau transisi.
Semakin sering melakukan latihan seperti ini, semakin cepat kamu mulai mengenali pola yang sebelumnya cuma terasa sebagai “lagunya enak”.
7. Belajar Mixing dan Mastering Tanpa Tenggelam dalam Plugin
Begitu arrangement selesai, masuklah ke tahap mixing. Untuk pemula, jangan langsung berpikir tentang plugin mahal atau chain efek panjang. Mulai dari volume.
Tanyakan: apakah kick terlalu keras? Vokal tenggelam? Bass menutupi semuanya? Synth terlalu dominan? Balance sederhana sering menyelesaikan lebih banyak masalah daripada menambahkan efek tanpa tujuan.
Setelah itu, kamu bisa belajar EQ, compression, panning, reverb, delay, dan automation secara bertahap. Kamu mungkin juga akan menemukan istilah VST plugin, yaitu format plugin yang digunakan banyak DAW desktop untuk instrumen dan efek tambahan. Jangan buru-buru mengoleksi ratusan plugin. Kuasai tools yang sudah tersedia terlebih dahulu.
Mastering berada setelah mixing dan berurusan dengan hasil lagu secara keseluruhan. Tapi mastering bukan tombol ajaib untuk memperbaiki mix yang berantakan. Kalau vokal nggak terdengar dan bass terlalu besar, perbaiki masalahnya di mix dulu.
Target pemula bukan membuat master sekelas rilisan label besar dalam project pertama. Targetnya adalah memahami kenapa satu elemen terdengar terlalu keras, terlalu sempit, terlalu gelap, atau terlalu jauh—lalu belajar memperbaikinya sedikit demi sedikit.
Bolehkah Menggunakan Loop dan Sample?
Boleh. Loop dan sample adalah bagian dari workflow produksi musik modern.
Yang harus diperhatikan adalah lisensi. Jangan mengambil audio random dari lagu orang lain atau video internet lalu menganggap semuanya bebas digunakan.
BandLab Sounds saat ini menyediakan loop, sample, dan one-shot royalty-free. BandLab juga menjelaskan bahwa Sounds boleh digunakan secara personal maupun komersial sebagai bagian dari komposisi yang lebih besar, tetapi sample tersebut tidak boleh dijual atau didistribusikan kembali sebagai file standalone.
Jadi, biasakan membaca lisensi sejak awal. Skill produksi bisa berkembang dalam beberapa bulan; masalah hak cipta bisa bertahan jauh lebih lama.
Workflow Lagu Pertama yang Simpel
Kalau masih bingung, sederhanakan semuanya menjadi:
DAW → Genre → Reference → BPM → Beat → Chord → Bass → Melody → Arrangement → Mix → Export
Jangan mengejar versi sempurna di setiap tahap. Buat draft terlebih dahulu dan terus bergerak sampai lagu punya awal dan akhir.
Setelah selesai, export dan dengarkan di beberapa perangkat yang memang kamu punya. Headphone, speaker laptop, atau speaker kecil bisa membantu menunjukkan apakah ada bagian yang sangat timpang.
Lalu berhenti.
Buat lagu kedua.
Lima lagu sederhana yang selesai biasanya mengajarkan lebih banyak daripada satu project pertama yang terus dibongkar selama enam bulan.
FAQ Tips Membuat Musik untuk Pemula
Apa yang dibutuhkan untuk mulai membuat musik?
Smartphone atau komputer, headphone, dan DAW sudah cukup untuk memulai. MIDI controller, microphone, audio interface, dan monitor speaker bisa ditambahkan ketika workflow-mu memang membutuhkannya.
Apakah harus mengerti teori musik sebelum bikin lagu?
Nggak harus. Kamu bisa mulai sambil belajar. Tapi memahami ritme, BPM, tangga nada, chord, dan struktur lagu akan membuat proses produksi lebih terarah.
Apakah BandLab cukup untuk pemula?
Ya, untuk belajar dasar recording, audio/MIDI editing, virtual instrument, sample, arrangement, dan mixing sederhana, BandLab sudah menyediakan workflow yang cukup lengkap melalui browser dan aplikasi mobile.
Apakah menggunakan sample berarti bukan musisi “asli”?
Nggak. Sample hanyalah salah satu alat produksi. Yang penting adalah bagaimana kamu mengolahnya dan apakah kamu punya hak atau lisensi yang sesuai untuk menggunakannya.
Penutup
Dari berbagai tips membuat musik untuk pemula, kuncinya adalah mulai berkarya dengan alat yang ada. Nggak perlu studio mahal atau banyak plugin. Cukup gunakan DAW yang mudah dipahami, pelajari beat, melodi, dan dasar mixing.
Seperti saran AZRIELJOE, rutin latihan dan aktif mendengarkan musik bisa membantu mengasah kemampuan produksi. Mulai dari satu beat sederhana, kembangkan jadi lagu, lalu selesaikan. Karya pertama mungkin belum sempurna, tapi dari situlah kemampuanmu berkembang.
Musikmu Bisa Jadi Karya yang Menghasilkan
Track sudah jadi? Jangan cuma disimpan! Bagikan musikmu di FUOMO, bangun audiens, dan buka peluang baru lewat karyamu.
Mulai Jadi Creator















